Ads Header

Tampilkan postingan dengan label Fiqh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juni 2011

Ceramah di Pernikahan


Pertanyaan, “Terkadang pada saat pesta nikah diselenggarakan di gedung persewaan, hotel atau lainnya keluarga penganten perempuan atau penganten laki-laki meminta seorang ustadz untuk memberi ceramah berisi nasehat dan peringatan untuk para hadirin. Biasanya ceramah ini berisi seputar pernikahan, mas kawin yang terlalu mahal, pemborosan dalam pesta nikah dan berbagai hal yang haram yang terjadi dalam pesta nikah semisal foto-foto, campur baur laki-laki dengan perempuan, nyanyian dll. Acara pengajian dalam pesta nikah ini tidak disetujui oleh sebagian orang dengan alasan momen pesta nikah adalah momen senang-senang dan tidak ada dalil yang menunjukkan dituntunkannya pengajian ketika acara pesta nikah. Apa solusi dari permasalahan di atas?”

ج: لا مانع من إلقاء محاضرة نافعة على الحاضرين في أمرهم بالمعروف ونهيهم عن المنكر في حفل الزواج. وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

Jawaban Lajnah Daimah, “Tidaklah terlarang memberikan ceramah yang manfaat kepada para hadirin berisi amar makruf nahi munkar seputar pesta nikah”.

Fatwa di atas ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku ketua Lajnah Daimah, Abdurrazaq Afifi selaku wakil ketua dan Abdullah bin Ghadayan selaku anggota.
Sumber: Fatawa Lajnah Daimah jilid 19 nikah 2 hal 106-107.

[Biasanya keadaan pesta nikahan di masyarakat Saudi Arabia seperti digambarkan penanya, dilakukan di tempat yang mewah dan jarang ada ceramah agama seperti yang kita temukan di negeri kita, ed]

Sumber : Ustadz Aris Munandar
Read more

Senin, 16 Mei 2011

Gelang Bagi Pria


هل يجوز لبس الاساور للرجال حيث انها تخلو من الذهب والفضه ؟

Pertanyaan, “Apakah laki-laki diperbolehkan memakai gelang yang bukan terbuat dari emas ataupun perak?”

لا يجوز أن يلبس الرجل إلا الخاتم أو الساعة وما شابه ذلك أما أن يتشبه بالنساء في لبس الأساور حتى لو لم تكن من ذهب لايجوز

Jawaban Syaikh Abdul Muhsin al Ubaikan, “Tidaklah diperbolehkan bagi laki-laki untuk memakai perhiasan selain cincin, jam tangan atau benda semisalnya. Perbuatan menyerupai perempuan dengan memakai gelang meski tidak terbuat dari emas hukumnya adalah tidak boleh”.

Sumber:

Syaikh Abdul Muhsin al Ubaikan

Ustadz Aris Munandar
Read more

Minggu, 15 Mei 2011

Ruqyah Yang Keliru


Kebenaran ruqyah sebagai pengobatan sudah dibuktikan oleh para ulama dahulu. Adapun pada masa sekarang ini (dan juga masa sebelumnya), praktek pengobatan yang dianjurkan oleh Sunnah Nabi ini, nampak mengalami beberapa pergeseran tata cara dan tujuan. Terjadinya pergeseran ini, disamping telah menimbulkan kesalahan persepsi tentang ruqyah, juga memunculkan adanya kekhawatiran menyangkut masalah aqidah.

Penyimpangan yang terjadi, di antaranya berpangkal dari dual hal. Pertama, buta atau kurang memahami permasalahan agama. Kedua, membenarkan bualan jin yang merasuki badan seseorang. Misalnya, jin tersebut melontarkan nasihat kepada orang yang akan mengobati, dengan mengatakan –misalnya- kondisi penderita ini demikian, bacalah ayat ini ayat itu, atau tulislah Al Qur’an dengan cara tertentu kemudian lakukan ini itu. Dari sini, kemudian sang terapis menuruti petunjuk jin yang banyak menjerumuskan orang-orang ke jurang perbuatan haram.

Berikut kami sebutkan di antara kekeliruan dalam praktek ruqyah.

1. Mengajak Jin Untuk Berkomunikasi Dan Membenarkan Ocehannya.
Sering terjadi adanya komunikasi dengan jin dan melontarkan pertanyaan kepadanya tentang banyak permasalahan. Baik tentang nama, umurnya dan keyakinannya. Orang-orang pun mudah mempercayainya. Fenomena ini hanya akan mengantarkan manusia menuju kerusakan dan pelanggaran. Orang-orang seolah melupakan bahwa jin bukan sumber talaqqi ilmu. Sebab kedustaanlah yang mendominasi sepak terjang jin. Ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Abu Hurairah: “Dia (saat ini) jujur kepadamu, tetapi ia makhluk yang pendusta”.

Praktek seperti di atas mengandung unsur pelanggaran terhadap petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Syaikh Al Albani berkata: Dahulu, orang-orang yang menangani ruqyah di hadapan orang kesurupan, hanyalah ditangani beberapa individu yang shalih dengan jumlah tidak banyak. Sedangkan sekarang ini, jumlah mereka ratusan orang. Bahkan termasuk juga sekumpulan wanita mutabarrijah (pesolek). Akibatnya praktek ini menyimpang dari statusnya sebagai sarana pengobatan syar’i – yang hanya dilakukan oleh para ahlinya- berubah menjadi fenomena dan sarana kehidupan yang tidak dikenal syariat ataupun ilmu kedokteran sekaligus. Justru menurutku termasuk praktek dajl (kedustaan) dan bisikan setan kepada musuhnya, manusia…. Barangsiapa yang meminta pertolongan dengan jin dalam membuang pengaruh sihir atau ingin mengetahui jati diri jin yang sedang merasuki seseorang – jin itu laki-laki atau perempuan, muslim atau kafir- dan kemudian dibenarkan oleh orang tadi dan juga orang-orang yang bersamanya, niscaya mereka ini tercakup dalam kandungan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : “Barangsiapa mendatangi tukang ramal, atau dukun dan membenarkannya atas ucapannya, maka ia telah mengingkari risalah yang diturunkan kepada Muhammad”. [Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan imam lainnya. Lihat Ghayatul Irwa`, no. 2006]. Maka aku ingin memberikan masukan untuk mereka –kalau mereka tetap menjalankannya- saat berkomunikasi dengan jin, tidak melebihi petunjuk Nabi yang hanya mengatakan “Keluarlah kamu, wahai musuh Allah”. Lihat Silsilah Shahihah, 6/1009-1010.

Komunikasi dalam pengobatan ruqyah ini justru berdampak buruk, di antaranya:

Pertama : Terjadinya fitnah dan perseteruan antara manusia. Sebab, tatkala jin mengatakan bahwa si Fulan adalah aktor yang menyusupkan pengaruh sihir, dan ini didengar oleh orang banyak, maka dapat mengakibatkan timbulnya permusuhan dan kebencian di antara kaum Muslimin. Berapa banyak tali silaturahmi yang putus, rumah yang hancur dan keluarga yang tercerai-berai lantaran perkataan jin yang ada dalam tubuh korban kerasukan?

Kedua : Jin akan lebih lama tinggal dalam tubuh korban, lantaran bacaan Al Qur`an dihentikan dengan komunikasi tersebut.

2. Menyembelih Hewan Sembelihan Untuk Jin.
Perbuatan ini haram, karena termasuk dalam kategori syirik. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Allah melaknati orang yang menyembelih untuk selain Allah”.

3. Terlalu Bergantung Pada Pengalaman.
Karena terlalu longgar, banyak peruqyah yang memiliki cara tersendiri, berbeda dengan cara rekan sejawatnya yang lain. Mereka berdalih, cara ini sudah melewati uji coba dan ternyata manjur.

Sebagai contoh, mengolesi minyak pada anggota tubuh tertentu, membaca Al Qur`an di depan satu bejana air dan berwudhu dengannya, juga untuk mandi dengan berlebihan, penggunaan kayu wangi (bukhur), penggunaan cara kekerasan dengan intimidasi terhadap jin, keinginan untuk membakarnya, atau bahkan ingin membunuhnya. Cara yang dipakai kadang dengan pukulan, cekikan (pada korban), menggelapkan ruangan tempat terapi, membakar beberapa bagian anggota tubuh korban. Atau dengan melakukan ruqyah di hadapan orang banyak demi menghemat waktu. Caranya, menggunakan pengeras suara di dalam masjid dengan memfokuskan pada ayat-ayat yang diklaim sebagai ayat ruqyah.

Syaikh Al Albani mengatakan: “Tidak setiap pengalaman yang bermanfaat menunjukkan, bahwa cara seperti itu sesuai dengan syariat. Sebab, seandainya masalah ini dibuka secara bebas, maka akan membuka kelonggaran untuk kedustaan, bid’ah dan khurafat. Atau tidak menutup kemungkinan terjadinya kesyirikan”.

4. Berprofesi Sebagai Pembaca Ruqyah.
Ada sebagian orang yang menyibukkan diri untuk mengobati dengan cara ruqyah. Waktunya hanya habis untuk membaca di depan orang-orang yang sakit. Tempat tinggal diperluas dan siap menerima kedatangan para pasien. Jadwal kunjungan pun ditetapkan layaknya rumah sakit. Kesibukan ini dijadikan sebagai pekerjaan untuk mencari penghidupan. Fenomena ini akan menimbulkan dampak negatif.

Pertama : Kebanyakan orang akan mengira, bahwa peruqyah ini mempunyai keistimewaan tersendiri. Buktinya banyak pengunjung mendatanginya. Akibatnya, menimbulkan asumsi, jika posisi pembaca Al Qur`an melebihi kedudukan yang dibacanya, yaitu Al Quran. Oleh karena itu, segala akses yang berakibat melemahnya kepercayaan orang kepada Al Qur`an harus dicegah.

Kedua : Sang peruqyah juga mungkin akan mengira dirinya mempunyai kekuatan super sehingga setan-setan takluk di hadapannya. Sehingga penyakit ‘ujub dan takabur merasukinya, demikian juga perasaan buruk lainnya.

Dahulu, pada zaman sahabat, ada sekian sahabat yang dikenal doanya terkabul, seperti Sa’ad bin Abi Waqqash, dan juga Uwais Al Qarni dari kalangan tabi’in. Meski begitu, tidak diketahui atsar yang menunjukkan adanya orang-orang memadati rumahnya untuk meminta doa. Padahal doa mustajab sangat dibutuhkan orang-orang untuk memperbaiki dunia dan akhiratnya.

Ketiga : Orang yang menyibukkan diri untuk meruqyah, adalah laksana orang yang mengkhususkan diri untuk mendoakan orang lain, karena jenisnya sama. Apakah pantas bagi seorang muslim mengatakan, kemarilah aku akan doakan kalian. Apalagi praktek ini mematikan semangat orang untuk meruqyah diri sendiri dan meminta penyembuhan dari Allah semata.

5. Meminta Upah Dengan Berbagai Cara.
Imbal balik ini dilakukan dengan beragam cara :
Pertama : Memaksa agar diberi upah yang tinggi.
Kedua : Menolak meruqyah kecuali setelah menerima satu nominal uang dari penderita.
Ketiga : Sengaja mengulangi pengobatan dan memanjangkan waktunya sehingga dapat menerima upah untuk setiap kesempatan.
Keempat : Mereka mengaku tidak meminta upah, tetapi hanya ada jual beli air “bertuah” yang sudah dibacakan ruqyah padanya. Air “bertuah” dicampur dengan beberapa ramuan alami, kemudian dijual dengan harga mahal.

6. Membuat Dzikir-Dzikir Baru Dalam Agama.
Dalam beberapa buku disebutkan adanya pengobatan dengan ayat Al Qur`an, dzikir-dzikir yang umum dalam syariat, namun cara ketentuan membacanya ditetapkan dengan cara-cara yang khusus.

Sebagai misal, adanya ketentuan agar ayat ini atau dzikir ini dibaca duapuluh kali atau seratus kali. Padahal sama sekali tidak ada keterangannya dalam agama. Contoh konkretnya dalam buku Itsbatu ‘Ilaji Jami’i Al Amradhi Bil Qur`an (ketetapan penyembuhan segala penyakit dengan Al Qur`an). Dalam buku tersebut dijelaskan, setelah penulis menyebutkan ayat-ayat terapi, ia menambahkannya dengan ketentuan “hendaknya ditulis dalam piring buatan Cina, berwarna putih tanpa ornamen. Tentu yang seperti ini merupakan kesalahan.

Disamping cara-cara ruqyah yang keliru di atas, masih ada beberapa cara yang menyimpang lainnya, seperti:

- Meyakini bahwa ruqyah benar-benar bermanfaat dan merupakan faktor penyembuh.
- Membuka pengobatan dengan menanyakan nama dan nama ibu pasien.
- Meminta benda-benda yang pernah dipakai pasien.
- Meminta penyembelihan hewan dengan cara khusus. Dan kadang, setelah itu memerintahkan untuk melumuri badan penderita dengan darah hewan tersebut.
- Menuliskan beberapa kalimat yang tidak dapat dipahami layaknya kode morse atau huruf yang putus-putus.
- Melakukan komat-kamit dengan kalimat yang tidak terpahami.
- Membekali pasien dengan benda untuk dipendam di sekitar rumah.
- Menyatakan mampu memberi tahu pasien tentang kondisi yang dialaminya.
- Terlihatnya tanda-tanda kefasikan pada seorang peruqyah, seperti malas menunaikan shalat berjamaah.
- Dalam pengobatan wanita, dengan dalih sebagai penyembuh atau dengan alasan terpaksa, kadang sang peruqyah membuka aurat wanita, melihat wanita di tengah pengobatan, meletakkan tangan di tubuh pasien wanita atau mengoleskan cream di beberapa anggota tubuhnya. Padahal, wanita adalah fitnah terbesar bagi kaum lelaki. Disinilah setan berusaha menjerumuskan para terapis ke jurang pelanggaran syari’at dengan dalih penyembuhan, dan masih banyak lainnya.

Demikian praktek ruqyah yang bisa dianggap bisa mewakili terungkapnya beberapa kekeliruan yang terjadi seputar ruqyah. Bagi mereka yang melakukan terapi ruqyah, hendaknya berpegang teguh dengan petunjuk Al Qur`an dan Sunnah yang shahih. Jangan sampai setan mempermainkan mereka. Allah berfirman, yang artinya: Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. [QS An Nur ayat 63]. (Red)

Maraji`:
1. As Sihru Wa Al’Ain Wa Ar Ruqyah Asy Syar’iyyah, karya Fahd bin Sulaiman Al Qadhi`, Cetakan Haiah Al Amru Bil MA’rufi Wan Nahyi ‘Anil Mungkar, tanpa tahun.
2. Fathur Rahman Fi Bayani Hajril Qur`an, karya Abu Anas Muhammad bin Fathi Alu ‘Abdul Aziz dan Abu Abdir Rahman Mahmud bin Muhammad Al Mallah, Dar Thayyibah Al Kadhra`, Mekkah, Cet. II, Th. 2002.
3. Nazharat Wa Ta`ammulat Min Waqi’i Al Ummah, karya Dr. Muhammad bin Abdur Rahman Al Khumayyis, Maktabah Ash Shabahah Sharjah Uni Emirat, Cet. I, Th. 1419 H/1998M.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06//Tahun IX/1426H/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Sumber : ALMANHAJ
Read more

Keluar Masjid Melangkahi Orang


السؤال : ما هي نصيحتكم لمن يكون في الصفوف الأولى ثم إذا انفضت الصلاة وانتهى الإمام ألتفت وخرج من الصف بتخطيه لرقاب المأمومين والمسبوقين في الصفوف المتأخرة ؟

Pertanyaan, “Apa nasihat Anda untuk orang yang berada di shaf-shaf awal kemudian ketika shalat sudah selesai orang tersebut keluar dari shaf dengan melangkahi pundak-pundak banyak orang, makmum yang sudah selesai shalat ataupun masbuk yang berada di shaf-shaf belakang?”

الجواب :
هذا خطأ يرتكبه البعض ، ينبغي له أن يذكر الله عز وجل في مكانه الذي صلى فيه ، وأن لا يشوش على المصلين ولا يقطع الصفوف التي فيها مصلين مسبوقين ،

Jawaban Syaikh Abdul Muhsin al Ubaikan, “Ini adalah KESALAHAN yang dilakukan oleh sebagian orang. Yang sepatutnya dilakukan adalah berdzikir di tempat yang dia pakai untuk mengerjakan shalat, tidak mengganggu orang-orang yang sedang melengkapi shalatnya dan tidak melintas di shaf yang di shaf tersebut terdapat makmum-makmum masbuq yang melengkapi shalatnya.

كما في حديث النبي صلى الله عليه وسلم الرجل الذي تحظى الرقاب في الجمعة فقال : أجلس فقد آذيت وآنيت ، [ أخرجه أبوداود قي سننه (برقم 1120) والنسائي في سننه (برقم 1399) وصححه الألباني ]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang-orang yang melangkahi pundak-pundak orang pada hari Jumat, “Duduklah, anda telah mengganggu, telah mengganggu lagi” [HR Abu Daud no 1120 dan Nasai no 1399, dinilai shahih oleh al Albani].

وهذا قريب منه كما أنه يؤذي بتخطي الرقاب في الدخول كذلك في الخروج . والله أعلم .

Kasus yang ditanyakan itu serupa dengan kasus yang ada dalam hadits di atas. Sebagaimana terlarang mengganggu dengan melangkahi pundak-pundak orang ketika masuk masjid, terlarang pula mengganggu dengan melangkahi pundak saat keluar hendak meninggalkan masjid”.

Sumber:

http://al-obeikan.com/show_fatwa/3269.html

Abdul Muhsin al Ubailan

Ustadz Aris Munandar
Read more

Sabtu, 14 Mei 2011

Hukum Gambar Bergerak


Tanya:

“Tentang gambar di televisi, apakah itu termasuk membuat gambar (tashwir) yang haram? Jika tidak termasuk membuat gambar yang haram lalu apa yang mengeluarkannya dari ruang lingkup haram menjadi mubah dan halal? Apakah gambar di TV itu termasuk kebutuhan vital (dharuri) ataukah karena alasan yang lain?”

Jawaban Syeikh Abdullah bin Jibrin-rahimahullahu-:

الذي أخرجه أنه غير مستقر و غير ثابت لأنه يمكن مسحه بخلاف التصوير الذي يرسم في الصحف فإنه ثابت لا يمكن أن يمسح بالإصبع و لا أن يسجل عليه.
و حيث أن هذا إنما هو التقاط هذه الصور المتحركة أو نقل حركتها ثم بعدها تمسح من هذا الشريط و يسجل فيه غيره دل على أنها وإن كانت صورة في الظاهر لكنها غير ثابتة.

“Faktor yang membedakannya adalah gambar di TV itu gambar yang tidak paten dan tidak tetap karena gambar tersebut bisa dihapus. Hal ini berbeda dengan membuat gambar di kertas. Gambar ini paten karena tidak mungkin dihapus dengan jari atau ditindih dengan gambar yang lain.

Alasan yang lain gambar di TV itu hakikatnya adalah sekedar mengambil gambar yang bergerak atau memindah gerakan gambar yang bergerak. Kemudian gambar yang ada dalam kaset video itu bisa dihapus dan ditindih dengan gambar yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa gambar di TV itu meskipun secara lahiriah adalah gambar akan tetapi bersifat tidak permanen”

[Fatwa ini kami jumpai dalam buku yang berjudul ‘Ijabah al Sa-il ‘al Ahammi al Masa-il Ajwibah al ‘Allamah al Jibrin ‘ala As-ilah al Imarat, hal 43-44, terbitan Maktabah al Ashalah wa al Turats, Emirat Arab tahun 2008 M. Fatwa ini disampaikan oleh Ibnu Jibrin pada tahun 1414 H sedangkan kata pengantar Ibnu Jibrin untuk buku tersebut ditulis pada tanggal 11 Syawal 1427 H].

Kami katakan bahwa termasuk gambar bergerak adalah gambar yang ada di VCD.

Sumber Ustadz Aris Munandar
Read more

Pakai Jam Di Tangan Kiri


Pertanyaan:
“Ada hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menganjurkan untuk mendahulukan kanan dalam hal kebaikan, seperti masuk masjid, memakai sandal. Tetapi bagaimanakah jika yang kita pakai itu sesuatu yang tidak berpasangan seperti jam tangan?Manakah yang lebih utama, antara kanan dan kiri untuk jam tangan?”

Jawaban:
Ketika jam tangan muncul pertama kali dikenal, orang-orang memakainya di tangan sebelah kiri dengan maksud agar tidak ada sesuatu pun di tangan kanan yang akan mengganggu geraknya. Pada umumnya, gerakan tangan kanan lebih banyak daripada tangan kiri, sehingga orang-orang pun memakaianya di tangan kirinya supaya lebih leluasa untuk bergerak. Selain itu, karena tangan kanan sering digunakan untuk beraktivitas sehingga dikhawatirkan jam tangan bisa rusak jika dikenakan di tangan kanan, misalnya terbentur sesuatu. Sehingga orang-orang lebih suka mengenakan jam tangannya di tangan sebelah kiri.

Ada sebagian orang yang menyangka bahwa yang terbaik dan lebih utama mengenakan jam tangan di tangan sebelah kanan, mengingat terdapat dalil yang menunjukkan anjuran mengutamakan tangan kanan. Akan tetapi sangkaan ini tidaklah benar karena terdapat hadits yang menunjukkan bahwa Nabi memasang cincinnya di jari tangan kanan. Dan terkadang beliau memasang cincinnya di jari tangan kiri. Boleh jadi mengenakan cincin dengan jari tangan kiri itu lebih utama agar tangan kanan bisa dengan mudah melepas cincin jika diperlukan.

Kembali pada masalah jam tangan, kita bisa menyamakannya dengan cincin. Sehingga tidak ada kelebihan tangan kanan ataupun tangan kiri dalam mengenakan jam tangan. Ada kelonggaran dalam masalah ini. Kita boleh mengenakan jam tangan di tangan kanan, dan boleh juga di tangan kiri. (Lihat Fatwa Syaikh Ibn Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin Cetakan Dar wathan Juz 7 hal 184)

Sumber : Ustadz Aris Munandar
Read more

Jumat, 06 Mei 2011

Nyusui Didepan Bocah


سئلَ فضيلةُ الشَّيخ علي الحلبي -حفظهُ الله-:
هل يجوز أن تُرضع المرأة أمام النِّساء المسلمات، وأمام ابنها الصغير -إلى أي عُمُر-؟

Pertanyaan, “Apakah seorang ibu boleh menyusui anaknya di depan para wanita muslimah atau di depan anaknya? Jika boleh menyusui di depan anak batas toleransinya sampai usia berapa?

ب:
الظَّاهر: أنَّ هذا لا يجوزُ؛ لأنَّ ثدي المرأة على المرأة عَورة -في أرجحِ الأقوال-.

Jawaban Syaikh Ali al Halabi, “Untuk pertanyaan pertama, tidak boleh karena payu dara perempuan adalah aurat yang tidak boleh diperlihatkan meski di depan sesama wanita menurut pendapat yang paling kuat.

السُّؤال الثَّاني: ابنُها الصَّغير يجوز أن تُرضع أمامَه ما لم يَصلْ سِن التَّمييز -ولا نقول سِن البُلوغ-؛ لأن سنَّ التَّمييز يستطيعُ الولد أن يَعرف وأن يُدرك فيه العَورات وما أشبه. والله المُستعان.

Untuk pertanyaan kedua, boleh menyusui di depan anak kecil selama anak tersebut belum tamyiz (baca: tujuh tahun). Perhatikan, kami tidak mengatakan selama belum baligh. Jika sudah tamyiz seorang anak mengetahui dan memahami aurat wanita dan hal-hal semisal itu”.

Sumber:

من لقاء على البالتوك بتاريخ (24/2/2007)، من الدقيقة (54:36)].
Rekaman Tanya Jawab bersama Syaikh Ali al Halabi via paltaks pada tahun 24 Februari 2007.

http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?p=121373#post121373

http://ustadzaris.com/nyusui-di-depan-anak-kecil
Read more

Bunuh Pakai Listrik


فضيلة الشيخ: ما حكم قتل الذباب بالصاعق الكهربائي، علما أن أجهزة الصعق منتشرة بكثير من المساجد؟

Pertanyaan, “Apa hukum membunuh lalat dengan raket listrik? Perlu diketahui bahwa alat ini tersebar di banyak masjid (di Saudi)

الأولى ألا يقتلها بالكهرباء؛ لأن هذا نوع من النار، لقول النبي: لا يعذب بالنار إلا رب النار يكون قتلها بشيء آخر بفليت أو ما أشبه ذلك.

Jawaban Syaikh Abdul Aziz ar Rajihi, “Yang lebih baik adalah tidak membunuh lalat dengan menggunakan listrik karena listrik itu sejenis dengan api. Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh menyiksa dengan api kecuali pemilik api (baca: Allah)”.
Hendaknya lalat dibunuh dengan alat yang lain”.

Sumber:

http://shrajhi.com/?Cat=1&Fatawa=542

http://ustadzaris.com/membunuh-lalat-dengan-raket-listrik
Read more

Minggu, 01 Mei 2011

Kaos Kaki Wanita



Bismillaah,

قال الشيخ الألباني -رحمه الله-أيضا:
أنا أرى أنه لابد أن تلبس قميصا سابغا لظهور قدميها لثبوت ذلك عن بعض أمهات المؤمنين ممكن إذا ظهر باطن قدمها وهي ساجدة مثلا فلا بأس من ذلك ,أما ظاهر القدم لابد من الستر .

Syaikh al Albani mengatakan, “Aku berpandangan bahwa seorang muslimah haruslah memakai long dress yang longgar dan panjang sehingga bisa menutupi punggung telapak kaki karena terdapat riwayat yang sahih dari salah seorang isteri Nabi yang mengatakan demikian.Jika yang nampak ketika shalat adalah bagian dalam telapak kaki seorang muslimah ketika dia dalam posisi sujud maka hukumnya tidak mengapa. Sedangkan punggung telapak kaki harus ditutupi.

(السائل: فإن تعمدت كشف قدميها هل تبطل الصلاة)

Penanya, “Jika ada muslimah yang dengan sengaja menyingkap kedua telapak kakinya apakah shalatnya batal?”

الشيخ : في أي مكان إن تعمدت فالصلاة غير مقبولة (لايقبل الله صلاة حائض إلا بخمار )

Syaikh al Albani mengatakan, “Apapun alasannya jika seorang muslimah dengan sengaja membuka telapak kakinya maka shalatnya tidak diterima karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak menerima shalat seorang wanita yang sudah balig kecuali jika mengenakan kerudung”.

السائل: الجورب يكفي في ستر قدميها ؟

Penanya, “Apakah kaos kaki itu sudah cukup untuk menutupi telapak kaki seorang muslimah?”

الشيخ :لا يكفي لأنه داخل في نفي الوصف السابق لا يشف ولايصف وهو وإن لم يشف فهو يصف.

Syaikh al Albani mengatakan, “Tidak cukup karena kaos kaki itu tidak memenuhi kriteria pakaian muslimah yaitu tidak transparan dan tidak memberikan gambaran bentuk tubuh. Meski kaos kaki itu tidak transparan (sehingga nampaklah warna kulit yang dilindungi oleh kaki) namun kaos kaki itu memberikan gambaran bentuk tubuh (baca: kaki)”.

[سلسلة الهدى والنور (شريط :رقم :23)(54:40)]

Demikian penjelasan al Albani sebagaimana terdapat dalam “Silsilah al Huda wan Nuur” kaset no 23, menit ke 4 detik ke 54 dan seterusnya.

Sumber:

http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=12398&page=2

الشيخ : أما ستر القدمين في الصلاة فهذا لابد منه؛ لأن القدمين من عورة المرأة كما دل على ذلك الكتاب والسنة.

Syaikh al Albani mengatakan, “Menutupi telapak kaki bagi muslimah dalam shalat adalah sebuah keharusan karena dua telapak kaki itu termasuk aurat seorang wanita berdasarkan dalil dari al Qur’an dan sunnah.

أما هل يجوز للمرأة أن تصلي بثياب بيتها ؟.

Apakah seorang wanita boleh mengerjakan shalat dengan mengenakan pakaian yang biasa dia pakai ketika berada di rumah?

فالجواب: يبدو أنه ليس من ثياب بيتها أن تكون ساترة لقدميها، فإذاً الجواب واضح: أنه لا يجوز، ولهذا جاء في بعض الآثار السلفية: أن المرأة إذا قامت تصلي فيجب أن يكون عليها قميص سابغ يستر ظاهر قدميها،

Jawabannya kemungkinan besar pakaian seorang wanita ketika berada di rumah tidaklah menutupi kedua telapak kakinya. Sehingga jawabannya adalah jelas yaitu tidak boleh. Oleh karena itu terdapat dalam sebuah riwayat (dari salah seorang isteri Nabi) bahwa seorang wanita jika mengerjakan shalat wajib memakai long dress yang longgar dan panjang sehingga bisa menutupi punggung kedua telapak kakinya.

إلا إذا افترضنا امرأة –أيضا هذا في الخيال- تعيش في عقر دارها متحجبة متجلببة بجلبابها كما لو كانت تعيش بين الأجانب، قد يكون هناك امرأة في لباسها في بيتها شيء من التحجيم، فإذا صلت فهي فعلاً ساترة لعورتها، ولكنها من جهة أخرى مُحَجِمة لعورتها وهذا مخالف لشريعة ربها،

Kecuali jika kita andaikan ada seorang wanita-tentu saja ini hanya imajinasi- beraktivitas di dalam rumah dengan mengenaikan jilbab yang sempurna sebagaimana jika berada di antara laki-laki yang bukan mahramnya. Boleh jadi pula, pakaian seorang wanita ketika berada di rumah itu membentuk lekuk tubuh. Jika dia shalat dengan pakaian tersebut tentu saja secara real dia telah menutupi auratnya namun mengingat di sisi lain pakaiannya tersebut membentuk lekuk tubuh maka hal ini terlarang dikarenakan menyelisihi syariat.

ولذلك فلا بد للمرأة أن تتخذ إزاراً أو قميصاً طويلاً تلبسه، ولو كانت يعني حافية القدمين فيكفيها أن تستر ظهور قدميها بهذا الثوب السابغ لظاهر القدمين.

Oleh karena itu seorang muslimah harus mengenakan semisal sarung atau long dress panjang meski tidak menutupi bagian dalam telapak kaki yang penting dia bisa menutupi punggung telapak kaki dengan pakaian yang longgar dan panjang tersebut”.

السائل : هل يكفي الجوربين في ستر القدمين ؟.

Penanya, “Apakah kaos kaki sudah mencukupi untuk menutupi telapak kaki?”

الشيخ : لا ما يكفي لأنُه يُجسم.

Syaikh al Albani, “Tidak cukup karena kaos kaki itu membentuk lekuk tubuh”.

من شريط الأجوبة الألبانية على الأسئلة الأسترالية شريط 621

Demikian penjelasan al Albani sbagaimana dalam kaset al Ajwibah al Albaniyyah ‘ala al As-ilah al Astaraliyyah no 621.

Sumber:

http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=12398
http://ustadzaris.com/kaos-kaki-wanita-menurut-syaikh-al-albani
Read more

Senin, 25 April 2011

Main PS



Bismillaah,

Hukum Menjual TV, Video dan PS

لدي محل أجهزة كهربائية ، فهل يجوز أن أبيع أجهزة التلفاز والفيديو وأجهزة ( البلايستيشن ) والاسطوانات الخاصة به ، مع العلم أنني لا أعرف لأي غرض ستستخدم هذه الأجهزة ؟

Pertanyaan, “Aku memiliki toko yang menjual alat-alat elektronik. Apakah aku boleh menjual TV, video dan PS (Playstation) serta CD khusus untuk PS? Aku tidak mengetahui untuk tujuan apakah alat-alat ini dipergunakan oleh pembeli”.

الحمد لله
هذه الأجهزة من التلفاز والفيديو وغيرها – مما يستعمل في الخير والشر ، والطاعة والمعصية، لكن يغلب اليوم استعمالها في الشر، من رؤية النساء العاريات ، وسماع اللهو واللغو والباطل من الموسيقى وغيرها- . والواجب في مثل هذا أن يعمل الإنسان بما يغلب على ظنه .

Jawaban, “Alat-alat di atas baik TV, video ataupun yang lainnya pada asalnya adalah alat-alat yang netral, bisa digunakan untuk hal-hal yang baik ataupun hal-hal yang buruk, untuk taat ataupun untuk maksiat. Akan tetapi pada hari ini alat-alat tersebut lebih dominan dipergunakan untuk keburukan baik berupa menonton perempuan telanjang, mendengarkan hal yang terlarang semisal musik atau pun yang lainnya. Dalam kondisi semisal ini kita wajib beramal sebagaimana yang menjadi prasangka kuat kita.
فلا يجوز بيعها إلا لمن عُلم أو غلب على الظن أنه يستعملها في المباح.

Oleh karena itu, tidak diperbolehkan menjual alat-alat tersebut kecuali kepada orang yang kita memiliki prasangka kuat bahwa orang tersebut akan menggunakannya dalam hal yang mubah.
أما من عُلم أو غلب على الظن أنه يستعملها في الحرام ، فلا يجوز بيعها عليه ؛ لقول الله تعالى : ( وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ) المائدة /2 .

Sedangkan orang yang diyakini atau ada prasangka kuat bahwa dia akan menggunakan benda-benda tersebut dalam hal yang haram maka tidak boleh menjual benda tadi kepadanya mengingat firman Allah yang artinya, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS al Maidah:2).
جاء في فتاوى اللجنة الدائمة : ” كل ما يستعمل على وجه محرم ، أو يغلب على الظن ذلك ، فإنه يحرم تصنيعه واستيراده وبيعه وترويجه بين المسلمين” اهـ فتاوى اللجنة الدائمة (13/109(

Dalam Fatawa al Lajnah al Daimah 13/109 disebutkan, “Segala benda yang dipergunakan untuk hal yang haram atau ada prasangka kuat untuk hal yang haram maka haram hukumnya memproduksi barang tersebut. Demikian pula mengimpornya, menjualnya dan memasarkannya di antara kaum muslimin”.
وسئلت اللجنة الدائمة للإفتاء ، ما نصه : أنا أعمل مهندس إلكترونيات ، ومن عملي إصلاح الراديو والتليفون والفيديو ومثل هذه الأجهزة ، فأرجو إفتائي عن الاستمرار في هذه الأعمال ، مع العلم أن ترك هذا العمل يفقدني كثيرا من الخبرة ومن مهنتي التي تعلمتها طوال حياتي ، وقد يقع علي ضرر خلال تركها

Al Lajnah al Daimah lil Ifta mendapatkan pertanyaan dengan teks sebagai berikut, “Aku adalah sarjana elektro. Aku bekerja menservis radio, TV, video dan alat-alat semisal. Aku berharap mendapatkan fatwa tentang terus menerus bekerja seperti ini. Perlu diketahui jika aku meninggalkan pekerjaanku ini aku akan kehilangan banyak dari kemampuanku dan berarti aku kehilangan profesi yang telah kupelajari sepanjang hidupku. Aku akan mendapatkan banyak masalah jika meninggalkan pekerjaan tersebut”.
فأجابت : ” دلت الأدلة الشرعية من الكتاب والسنة أنه يجب على المسلم أن يحرص على طيب كسبه، فينبغي لك أن تبحث عن عمل يكون الكسب فيه طيبا. وأما الكسب من العمل الذي ذكرته فهذا ليس بطيب؛ لأن هذه الآلات تستعمل غالبا في أمور محرمة” اهـ . فتاوى اللجنة الدائمة (14/420(

Jawaban al Lajnah, “Terdapat banyak dalil dari al Qur’an dan sunah yang menunjukkan bahwa seorang muslim berkewajiban untuk mencari pekerjaan yang halal. Sehingga sepatutnya anda mencari pekerjaan lain yang halal. Sedangkan pekerjaan sebagaimana yang anda ceritakan bukanlah pekerjaan yang halal karena alat-alat tersebut pada umumnya dipergunakan untuk hal-hal yang haram” (Fatawa al Lajnah al Daimah 14/420).
وأما (البلايستيشن ) وأقراصه ، فله الحكم السابق نفسه ، فيجوز بيعه على من غلب على الظن أن يستعمله استعمالاً مباحاً ، ويحرم بيعه على من غلب على الظن أنه يستعمله استعمالاً محرماً .

Sedangkan PS (Play station) dan CD-nya hukumnya sama dengan hukum masalah di atas. Sehingga boleh dijual kepada orang yang kita memiliki prasangka kuat bahwa orang tersebut akan menggunakannya dalam hal yang mubah. Haram hukumnya menjual benda tersebut kepada orang yang kemungkinan besar akan menggunakannya dalam hal yang haram.
وكثير من الناس الآن يستعمله استعمالاً محرماً ، فبدلاً من أن يكون الترفيه شيئاً عارضاً يفعله الإنسان إذا احتاج إليه ، صار الترفيه هو الأصل عند كثير من الناس ، فينفق فيه كثيراً من عمره وماله وجهده ما بين اللعب بنحو هذه الألعاب ، والذهاب إلى النوادي وحمامات السباحة ، والسفر والجلوس مع الأصحاب ، والذهاب إلى المنتزهات …إلخ .

Banyak orang menggunakan PS dengan penggunaan yang haram. Seharusnya hiburan itu seperlunya, dilakukan jika memang dibutuhkan. Namun ternyata menurut banyak orang isi pokok hidup adalah hiburan. Banyak orang menghabiskan banyak waktu, harta dan tenaganya di depan PS atau semisalnya. Jika tidak, mereka pergi ke tempat-tempat nongkrong, kolam renang, jalan-jalan dan duduk santai dengan kawan, pergi ke tempat-tempat wisata dan semisalnya.
وكثير ممن يستعمل البلايستيشن أو نحوه من الألعاب يضيع بسببه الصلوات ، وينشغل به عن كثير من مصالح دينه ودنياه ، مما يجعلنا نجزم بتحريمه على أمثال هؤلاء .

Banyak orang yang main PS atau alat permainan semisalnya karena sebab PS melalaikan kewajiban shalat lima waktu dan tidak melakukan hal-hal bermanfaat secara agama ataupun dunia. Dengan alasan-alasan tersebut kami berani menegaskan haramnya bermain PS bagi orang-orang semisal di atas.
وأما من يقدر الأمور حق قدرها ، ويلعب بهذه الألعاب قليلاً من الوقت للترويح عن النفس ، ولا يضيع بسببها شيئاً من الواجبات ولا مصالح دينية أو دنيوية ، ومع خلو هذه الألعاب من المنكرات كالموسيقى وصور النساء العاريات ونحو ذلك فلا حرج في ذلك إن شاء الله تعالى .

Adapun orang yang bisa bersikap proporsional, hanya sejenak saja bermain PS dengan tujuan mencari hiburan, PS tidak menyebabkan melalaikan kewajiban dan melakukan hal-hal bermanfaat secara agama ataupun dunia ditambah PS tersebut bebas dari berbagai kemungkaran semisal musik, gambar wanita telanjang maka bermain PS untuk orang yang memenuhi kriteria di atas itu tidak masalah, insya Allah.
والأجدر بالمسلم أن يحرص على كسب المال الحلال الذي لا شبهة فيه ، وليتذكر قول النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( كل جسد نبت من سحت فالنار أولى به ) . رواه الطبراني وصححه الألباني في صحيح الجامع (4519) .

Yang terbaik bagi seorang muslim adalah berusaha untuk mencari pekerjaan halal yang tidak ada subhat di dalamnya. Hendaknya kita selalu ingat dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Semua bagian badan yang tumbuh dari harta yang haram maka api neraka itulah yang lebih baik untuknya” (HR Thabrani dan dinilai sahih oleh al Albani dalam Shahih al Jami’ no 4519).

Sumber:

http://islamqa.com/ar/ref/39744/%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%84%D9%85

http://ustadzaris.com/hukum-bermain-play-station-ps
Read more

Minggu, 24 April 2011

Emas Putih



Bismillaah,

السؤال : ما هو حكم لبس الذهب الأبيض للرجال

Pertanyaan, “Apa hukum memakai emas putih bagi laki-laki?”

الجواب : إذا كان الذهب الأبيض مكونا من نفس مكونات الذهب الأصفرفلا يجوز لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم ( حرم لباس الحرير والذهب على ذكور أمتي وأحل لإناثهم ) رواه الترمذي وهو حديث صحيح كما في صحيح الجامع الصغير للألباني برقم (3137)

Jawaban Syaikh Abu Said al Jazairi- salah seorang ulama ahli sunnah yang tinggal di al Jazair-, “Jika unsur pembentuk emas putih itu sama dengan unsur-unsur pembentuk emas kuning maka tidak boleh dipakai oleh laki-laki karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Haram hukumnya memakai sutra dan emas untuk laki-laki dari umatku namun halal untuk perempuannya” [HR Tirmidzi, sahih sebagaimana dalam Sahih al Jami ash Shaghir karya al Albani no 3137].

وأما إذا كان ذلك الذهب الأبض مكونا من غير مكونات الذهب الأصفر , فإنه يجوز للرجل لبسه , ولا تضر تسميته بالذهب الأبيض , مثل تسمية البترول بالذهب الأسود .ومثل تسمية الثروة الزراعية بالذهب الأخضر .
فليست العبرة بالأسماء دائما .بل بالحقائق

Namun jika unsur pembentuk emas putih itu berbeda dengan unsur pembentuk emas kuning maka boleh dipakai oleh laki-laki dan tidaklah mengapa benda tersebut disebut emas putih sebagaiman minyak bumi disebut emas hitam dan hasil pertanian disebut emas hijau. Tolak ukur penilaian tidaklah selalu dengan nama namun dengan realita senyatanya”.

Sumber:

http://www.abusaid.net/fatawi-sites/339.html

http://ustadzaris.com/hukum-emas-putih
Read more

Rabu, 20 April 2011

Cincin Besi Haram ?


بلغني أن لبس الساعة اليدوية محرم، وذلك قياساً على الخاتم الحديد المنهي عن لبسه، وهي مصنوعة من الحديد، فهل هذا صحيح؟ وما رأيكم، هل نلبس الساعة أم لا ؟

Pertanyaan, “Aku pernah mendengar bahwa hukum memakai jam tangan adalah haram dengan alasan analog dengan cincin besi yang terlarang untuk dipakai.am tangan itu terbuat dari besi. Apakah pendapat ini benar? Apa pendapat Anda? Bolehkah kita memakai jam tangan ataukah tidak?”

الصواب أنه لا حرج في ذلك، لا حرج في لبس الساعة، ولا في لبس الخاتم من الحديد، وإنما المحرم لبس الخاتم من الذهب على الرجل، أما لبس الخاتم من الفضة أو من الحديد، أو الساعة كل ذلك لا بأس به،

Jawaban Ibnu Baz, “Yang benar, itu semua semua tidaklah masalah. Boleh memakai jam tangan dan boleh memakai cincin dari besi. Yang diharamkan adalah memakai cincin dari emas bagi laki-laki. Sedangkan memakai cincin dari perak, besi ataupun jam tangan hukumnya boleh.

وقد ثبت عنه -صلى الله عليه وسلم- أنه قال لرجل خطب امرأة:

Terdapat hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada seorang laki-laki yang melamar seorang wanita:

(التمس ولو خاتماً من حديد) رواه الشيخان في الصحيحين،

“Carilah mahar meski hanya berupa cincin dari besi” [HR Bukhari dan Muslim].

فلو كان الخاتم من الحديد ممنوعاً لما قال له: (التمس ولو خاتماً من حديد)،

Seandainya memakai cincin dari besi itu terlarang tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan mengatakan, “Carilah mahar meski hanya berupa cincin dari besi”.

وما جاز للرجل جاز للمرأة، إلا ما حرمه الشرع أو خص به المرأة أو الرجل، والذي خص به المرأة هو الخاتم الذهب، فهذا هو الذي لا يجوز للرجل ويجوز للمرأة،

Apa yang boleh dipakai oleh laki-laki itu boleh dipakai oleh wanita kecuali jika memang syariat mengharamkannya dengan mengkhususkan benda tersebut untuk wanita atau untuk laki-laki. Yang hanya boleh dipakai oleh wanita adalah cincin emas. Cincin emas inilah yang tidak diperbolehkan untuk laki-laki namun boleh untuk wanita.

أما الخاتم الفضة وخاتم الحديد فمشترك،

Sedangkan cincin perak dan cincin besi itu boleh untuk laki-laki dan wanita.

أما حديث أنه -صلى الله عليه وسلم- لما رأى على إنسان خاتم من حديد قال: (ما لي أرى عليك حلية أهل النار)، ولما رأى خاتم من صفر قال: (ما لي أرى عليك ريح الأصنام)

Terdapat hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat seorang yang memakai cincin dari emas mengatakan, “Mengapa kulihat dirimu mengenakan perhiasan penduduk neraka?!”. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat orang yang memakai cincin dari kuningan beliau mengatakan, “Mengapa kulihat pada dirimu bau berhala?!”.

فهما حديثان شاذان مخالفان لهذه الأحاديث الصحيحة، والشاذ عند أهل العلم يعتبر ضعيفاً لمخالفته الأدلة الشرعية.

Kedua hadits ini adalah hadits yang syadz karena keduanya menyelisihi hadits yang shahih. Hadits syadz menurut para ulama dinilai sebagai hadits yang lemah karena menyelisihi berbagai dalil syariat.

والساعة إذا كانت على الطريقة التي يلبسها الرجال ليس فيها تشبه بالنساء فلا بأس بهذا، ولا تكون من الذهب، ولا تكون من الفضة بل تكون من غير ذلك يلبسها الرجل، والمرأة تلبس ما يناسبها،

Jam tangan asalkan modelnya sesuai dengan jam tangan model untuk laki-laki sehingga tidak serupa dengan wanita hukumnya boleh asalkan tidak terbuat dari emas, ataupun perak namun terbuat dari bahan yang lain hukumnya boleh dikenakan oleh laki-laki. Sedangkan wanita hendaknya memakai jam tangan yang modelnya cocok bagi wanita.

فلا يلبس الرجل ما كان من خصائص المرأة، ولا المرأة ما كان من خصائص الرجل، كل منهما يلبس ما يليق به، سواءٌ كان لبسها في اليمنى أو في اليسرى كالخاتم، الرسول -صلى الله عليه وسلم- لبسه تارةً في اليمنى وتارة في اليسرى وهو من الفضة،

Laki-laki tidak boleh memakai benda khas wanita. Wanita juga tidak boleh memakai benda khas laki-laki. Hendaknya masing-masing jenis memakai benda yang cocok untuknya. Jam tangan boleh dipakai di tangan kanan ataupun tangan kiri. Hukumnya sama persis dengan cincin. Rasulullah terkadang memaki cincin perak beliau di tangan kanan dan terkadang di tangan kiri.

والساعة تشبه الخاتم، فإذا لبسها في اليمين أو في اليسار فلا حرج في ذلك، لكن لا تكون من الفضة، هذا هو الذي ينبغي اقتصاراً على ما ورد في الخاتم فقط في حق الرجل،

Jam tangan itu serupa dengan cincin sehingga boleh di tangan kanan ataupun di tangan kiri. Namun tidak boleh jam tangan terbuat dari perak untuk laki-laki. Inilah yang sepatutnya dilakukan. Penggunaan perak bagi laki-laki kita batasi sebagaimana yang ada dalam dalil yaitu khusus untuk cincin yang akan dikenakan oleh laki-laki.

أما الذهب فلا يجوز للرجل لا خاتم ذهب ولا ساعة ذهب كلاهما، وفق الله الجميع.

Sedangkan emas, laki-laki tidak boleh memakai cincin emas ataupun jam tangan terbuat dari emas”.

Sumber:

http://binbaz.org.sa/mat/18606

http://ustadzaris.com/benarkah-cincin-besi-haram
Read more

Selasa, 19 April 2011

Jawaban "Assholatukhoirumminnaum"


From:

mzrwan

mzrwan@yahoo.com

Message:
Assalamu’alaikum

Bacaan ketika mendengar adzan

“Seseorang yang mendengarkan adzan, hendaklah mengucapkan
sebagaimana yang diucapkan oleh muadzin, kecuali dalam kalimat: Hayya
‘alash shalaah dan Hayya ‘alal falaah. Maka mengucapkan: ’Laa
haula wala quwwata Illa billah’.

— HR. Bukhari: 1/152, Muslim: 1/288

bagaiman pa ustadz apabila adzan shubuh ketika mendengar “asshalaatu
khairum minannaum” , apa yang harus kita ucapkan ?

Syukron Jazakallahu khairan .

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Sebagian orang menjawab kalimat “Asshalatu khoirun minannaum” dengan ucapan “shadaqta wa bararta” yang artinya “anda benar dan anda telah berbuat kebaikan”.
Abdul Karim ar Rafii asy Syafii mengatakan,

وان يجيب من يسمع الاذان المؤذن فيقول مثل ما يقول وان كان السامع جنبا أو محدثا الا في الحيعلتين فانه يقول لا حول ولا قوة الا بالله والا في كلمة الاقامة فانه يقول أقامها الله وأدامها وجعلني من صالحي أهلها والا في التثويب فانه يقول صدقت وبررت وفي وجه يقول صدق رسول الله صلى الله عليه وسلم الصلاة خيرمن النوم

“Orang yang mendengar suara adzan hendaklah menjawab panggilan adzan dengan menirukan apa yang diucapkan oleh muazin meski orang yang mendengar adzan tersebut dalam kondisi hadats besar ataupun hadats kecil kecuali untuk dua hai’alah-ucapan “Hayya ‘ala Shalat” dan ucapan “Hayya ‘alal Falah”-hendaknya dijawab dengan ucapan “laa haula wala quwwat illa billah”. Demikian pula, ucapan iqomah-yaitu ucapan “had qomatish sholah”-tidaklah ditirukan namun dijawab dengan ucapan “aqamahallahu wa adamaha wa ja’alani min sholihi ahliha”. Begitu pula ucapan tatswib-yaitu ucapan “ash sholatu khairun minan naum” dijawab dengan “shadaqta wa bararta”. Sebagian ulama Syafiiyyah mengatakan bahwa jawaban bacaan tatswib adalah “shadaqa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ashsholatu khoirun minan naum” [Fathul Aziz bi Syarhil Wajiz atau disebut juga al Syarh al Kabir karya ar Rafii 3/205].

Dalil bahwa jawaban untuk ucapan ‘qad qomatish sholah’ adalah ‘aqomaha wa adamaha’ ialah sebuah hadits:

عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ أَبِى أُمَامَةَ أَوْ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ بِلاَلاً أَخَذَ فِى الإِقَامَةِ فَلَمَّا أَنْ قَالَ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَقَامَهَا اللَّهُ وَأَدَامَهَا ».

Dari Syahr bin Hausyah dari Abu Umamah atau dari salah seorang sahabat Nabi, sesungguhnya Bilal mulai mengumandangkan iqomah. Tatkala Bilal sampai pada kalimat ‘qod qomatish sholah’ Nabi menjawab, ‘aqomahallahu wa adamaha’ [HR Abu Daud no 528].

Tentang hadits ini al Hafiz Ibnu Hajar mengatakan,

وَهُوَ ضَعِيفٌ وَالزِّيَادَةُ فِيهِ لَا أَصْلَ لَهَا ، وَكَذَا لَا أَصْلَ لِمَا ذَكَرَهُ فِي ” الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ ”

“Hadits tersebut adalah hadits yang berkualitas lemah dan bacaan tambahan –yaitu ucapan “wa ja’alani min sholihi ahliha”- adalah bacaan yang tidak terdapat dalam hadits. Demikian pula bacaan untuk jawaban ‘ashsholatu khoirun minan naum”-yaitu ‘shadaqta wa bararta’ adalah bacaan yang tidak terdapat hadits yang mendukungnya” [at Talkhish al Habir 1/412, Syamilah].

Karena tidak terdapat hadits dari Nabi-sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar di atas- terkait bacaan khusus untuk ‘asholatu khoirun minannaum’- maka jawaban untuk bacaan tersebut kita kembalikan kepada dalil umum dalam masalah ini sebagaimana yang anda sebutkan dalam teks pertanyaan yaitu mengucapkan sebagaimana yang diucapkan oleh muazin. Sehingga jawaban untuk ucapan ‘asholatu khoirun minannaum’ adalah ‘asholatu khoirun minannaum’.

Kesimpulannya “ucapan ‘haqqan’ atau ‘shadaqta wa bararta’ atau ucapan ‘shadaqa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ashsholatu khoirun minan naum’ sebagai jawaban muazin yang mengucapkan ‘asholatu khoirun minannaum’ adalah termasuk bid’ah (baca:ibadah yang tidak pernah Nabi ajarkan) karena yang Nabi ajarkan pada saat itu adalah mengucapkan kalimat sebagaimana yang diucapkan oleh muazin yaitu ‘asholatu khoirun minannaum’ [Shofwah al Bayan fi Ahkam al Iqomah wal Adzan hal 138 karya Abdul Qadir bin Muhammad al Jazairi ta’liq al Albani dan Masyhur Hasan al Salman, terbitan ad Dar al Atsariyyah Yordania, cetakan pertama 1430 h].

Catatan:
Banyak orang mengucapkan ‘shadaqta wa bararta’ padahal cara baca yang benar menurut bahasa arab adalah ‘shadaqta wa barirta’ [Shofwah al Bayan hal 138].

Sumber : http://ustadzaris.com/menjawab-ucapan-ash-shalaatu-khoirum-minannaum
Read more

Tidur Siang Di Masjid


سئل الشيخ عبد الله أبا بطين: عن التقدم للمسجد، والقيلولة فيه… إلخ؟

Syaikh Abdullah Aba Buthain ditanya tentang hukum pergi ke masjid lantas tidur siang di sana.

فأجاب: أما مسألة التقدم للمسجد في مثل الظهر، والقيلولة فيه، فإن كان الإنسان قصد المسجد لانتظار الصلاة المفروضة، فصلى ما تيسر من النوافل، ثم جلس في المسجد يقرأ القرآن، أو يذكر الله، وهذا قصده، ولكن في نيته إن حدث عليه نعاس نام في المسجد، لم يقصد القيلولة فيه عادة، فهذا حسن إن شاء الله تعالى.

Jawaban beliau,

“Tentang pergi ke masjid di waktu zuhur lalu tidur siang di sana, hukumnya perlu mendapatkan rincian.

Pertama, jika maksud pokok orang tersebut pergi ke masjid adalah menunggu tibanya pelaksanaan shalat wajib lalu dia mengerjakan shalat sunnah yang memungkinkan untuk dilakukan kemudian duduk di masjid sambil membaca al Qur’an atau berzikir mengingat Allah. Inilah niat pokoknya namun dia memiliki niat sampingan yaitu jika ternyata ketika itu dia terserang kantuk maka dia akan tidur di masjid. Jadi orang tersebut tidak bermaksud membiasakan diri menjadikan masjid sebagai tempat tidur siang maka apa yang dilakukan orang tersebut adalah perbuatan baik, insya Allah.

وأما إن كان نيته أنه قصد المسجد ليضع عصاه في الصف، ويصلي ما تيسر، ثم ينام، أعني أنه قصد النوم فيه، وعزم عليه، فهذا مكروه، أعني: اتخاذ المسجد مقيلاً؛ فالأفضل في حق هذا أن يقيل في بيته، فإذا قضى حاجته من النوم، تطهر وقصد المسجد.

Kedua, jika maksud pokok orang tersebut pergi ke masjid adalah meletakkan tongkat di shaf lalu mengerjakan shalat sunnah sebanyak yang dia inginkan lantas tidur. Maksudnya tujuan pokoknya adalah tidur di masjid bahkan dia memang bertekad kuat untuk itu maka hukum perbuatan ini adalah makruh. Dengan kata lain, dimakruhkan menjadikan masjid sebagai tempat tidur siang (padahal punya rumah atau tempat lain untuk tidur siang, pent). Yang terbaik untuk orang tersebut adalah istirahat siang di rumahnya, jika kebutuhan tidur siangnya sudah terpenuhi dia lantas berwudhu lalu pergi ke masjid”.

Sumber: Ad Durar al Saniyyah fi al Ajwibah an Najdiyyah juz 4 hal 271-272, cet kelima 1414 H.
http://ustadzaris.com/tidur-siang-di-masjid
Read more

Menyewakan Masjid


Sering kali dijumpai adanya masjid yang disewakan dalam rangka pelaksanaan akad nikah ataupun kegiatan pengajian.


Bahkan di Jogjakarta dijumpai sebuah masjid yang disewakan untuk akad nikah yang hanya menghabiskan waktu beberapa jam saja dengan biaya tiga juta rupiah!!.
Bolehkah perbuatan semacam ini?

أنه قد ذهب جماعة من الفقهاء إلى كراهة إجارة المسجد وعللوا ذلك بأن المساجد لا تبنى للكراء

Markaz Fatwa yang diketahui Dr Abdullah al Faqih mengatakan, “Sejumlah pakar fikih berpendapat bahwa menyewakan masjid itu hukumnya makruh. Mereka beralasan bahwa masjid tidaklah dibangun untuk disewakan”.

Baca:

http://www.islamweb.net/ver2/Fatwa/ShowFatwa.php?lang=A&Id=53197&Option=FatwaId

Di antara pakar fikih yang menilai makruh penyewaan masjid adalah Ibnu Qasim al Maliki.

قُلْتُ : أَرَأَيْتَ إنْ بَنَى رَجُلٌ مَسْجِدًا فَأَكْرَاهُ مِمَّنْ يُصَلِّيَ فِيهِ ؟ قَالَ : لَا يَصْلُحُ هَذَا فِي رَأْيِي ؛ لِأَنَّ الْمَسَاجِدَ لَا تُبْنَى لِلْكِرَاءِ .

Ibnul Qasim mendapat pertanyaan, “Apa pendapat Anda mengenai seorang yang membangun masjid lantas masjid tersebut dia sewakan kepada orang yang mau mengerjakan shalat di dalamnya?”. Jawaban beliau, “Menurut pendapatku hal ini tidak sepantasnya dilakukan. Sesungguhnya masjid tidaklah dibangun untuk disewakan” [al Mudawwanah 10/357, Syamilah].

Sumber : http://ustadzaris.com/menyewakan-masjid-untuk-akad-nikah
Read more

Minggu, 17 April 2011

Wudhu Saat Telanjang


صحة وضوء الإنسان وهو متجرد من ثيابه.

Sahnya Wudhu dalam kondisi telanjang

السؤال
:
سؤال من : ع . ع – من العراق يقول : هل يصح الوضوء والإنسان متعر تماما بعد استحمامه في مكان واحد؟

Pertanyaan dari seseorang yang tinggal di Irak, “Apakah sah berwudhu di kamar mandi dalam keadaan telanjang bulat setelah selesai mandi?”

الجواب:

لا أعلم حرجا في أن يتوضأ الإنسان وهو عار تبعا للغسل ، وإن بدأ بالوضوء قبل الغسل فهو الأفضل؛ لفعل النبي صلى الله عليه وسلم ، فإنه كان يتوضأ ثم يغتسل للجنابة .

Jawaban Ibnu Baz, “Aku tidak mengetahui adanya larangan berwudhu dalam kondisi telanjang setelah selesai mandi. Namun berwudhu sebelum mandi itulah yang lebih afdhol karena itulah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berwudhu baru mandi junub”.

من برنامج نور على الدرب.

Demikian fatwa Syaikh Ibnu Baz dalam program acara Nurun ‘ala al Darb yang disiarkan oleh Radio al Qur’an al Karim KSA.

مجموع فتاوى ومقالات_الجزء العاشر.

Sumber: Majmu Fatawa wa al Maqalat Mutanawi’ah juz kesepuluh

http://www.ibnbaz.org.sa/mat/2215

Artikel www.ustadzaris.com
Read more

Ruqyah Melalui Kaset


هذه فتوى للعلامة صالح الفوزان -حفظه الله-
رقم الفتوى 934
عنوان الفتوى الرقية بطريق غير مباشر
نص السؤال ننتقل إلى رسالة الأخت مها من الرياض لها رسالة طويلة ملخصها : فضيلة الشيخ سَلَّمَكُم الله تقول : هناك بعض الناس ممن يقرءون على الناس بالرقية لا تكون مباشَرة إنما تكون عن طريق أشرطة يعطونها للمريض أو المصاب بالعين ليستمع إليها لكي يُعالَج بها فيذهب بها إلى غرفته ويستمع إلى هذه الآيات التي تقرأ ، هل يجوز ذلك وهل تنفع هذه الطريقة للعلاج أرجو توضيح ذلك مع العلم بأن أحد الإخوة يقرأ آيات قرآنية خاصة بِالْعَيْن أو بما يشتكي منه المريض .

Syaikh Shalih al Fauzan mendapat pertanyaan yang intinya sebagai berikut, “Ada tukang ruqyah yang menggunakan metode tidak langsung dalam meruqyah namun dengan menggunakan kaset ruqyah yang diberikan kepada si sakit atau orang yang terkena ain untuk didengarkan sendiri. Jadi pasien diterapi hanya dengan kaset. Pasien cukup mendengarkan ayat-ayat ruqyah yang sudah direkam dalam kaset tersebut dengan cara memutarnya menggunakan tape di kamarnya. Apakah hal semacam ini dibolehkan? Apakah cara semacam ini bermanfaat untuk menterapi si sakit. Saya mengharap mendapatkan penjelasan yang gamlang dalam masalah ini mengingat ada sebagian tukang ruqyah yang hanya merekam ayat-ayat al Qur’an untuk mengobati ain atau penyakit yang diderita si sakit dalam kaset ruqyahnya”.

الجواب:

هذا شيء محدث يُبتلى بالرقية , الرقية كما وردت أن يقراء على المريض مباشرة يقراء وينفث عليه مباشرة أو على موضع الألم هذه هى الرقية الشرعية,

Jawaban Syaikh Shalih al Fauzan, “Ini adalah cara yang mengada-ada dalam ruqyah. Cara meruqyah sebagaimana yang terdapat dalam dalil adalah membacakan ayat-ayat al Qur’an di dekat si sakit secara langsung lalu ditiupkan ke arah si sakit secara langsung atau pada bagian badan yang sakit. Demikian itulah yang disebut dengan ruqyah syar’iyyah.

أما أن يقراء فى شريط أو بواسطة الهاتف كما يفعله بعض المرتزقة الآن فهذا أمر محدث ليس هو الرقية الشرعية وإنما هو لأجل كسب المال لأجل أن يبيعوا هذه الأشرطة أو لأجل أن يأخذوا الأجرة على المكالمة أو ما أشبه ذلك من المقاصد , نعم .

Sedangkan jika bacaan ruqyah itu direkamkan ke dalam kaset atau ruqyah tersebut via telepon sebagaimana yang dilakukan saat ini oleh sebagian orang yang maksud pokoknya dari meruqyah adalah cari uang maka ini adalah perkara yang mengada-ada dan sama sekali bukanlah termasuk ruqyah syar’iyyah. Namun itu hanyalah trik untuk mencari uang dengan bentuk jualan kaset ruqyah, mendapatkan fee dari hasil pemakaian telepon yang dilakukan oleh pasien atau tujuan-tujuan lain yang semisal”.

Sumber:

http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=15995

http://ustadzaris.com/hukum-ruqyah-melalui-kaset
Read more

Umumkan Kematian Pakai Mic


هل يجوز النعي بمكبرات الصوت

Bolehkan Mengumumkan Kematian dengan Pengeras Suara?

السؤال:عندنا في الغرب الجزائري يعلن عن موت أحدنا من خلال تعليق مكبر الصوت على سيارة والتجوال ما بين طرق المنطقة،معلنين عن الشخص الذي توفاه الله ومكان الاجتماع للصلاة عليه ومكان دفنه وحسب،فهل هذا يدخل في النعي المنهي عنه علما أنه لا تذكر محاسنه عند الإعلان؟.

Pertanyaan, “Kami di sisi barat Aljazair memiliki kebiasaan mengumumkan kematian dengan menggunakan pengeras suara yang diletakkan di mobil lalu mobil berputar-putar di berbagai jalan di daerah kami sambil mengumumkan nama orang yang meninggal dunia, tempat pelaksanaan shalat jenazah untuk orang tersebut dan tempat pemakamannya. Itu saja yang diumumkan. Apakah perbuatan ini termasuk mengumumkan kematian yang terlarang? Perlu diketahui bahwa pada saat itu tidak ada pujian-pujian untuk mayit”

الجواب: النعي هو الإخبار بموت شخص، وقد ثبت عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن النعي» رواه أحمد (23270)، والترمذي (986) وحسّنه، ووافقه الألباني.

Jawaban Syaikh Abu Said al Jazairi, “An Na’yu adalah mengumumkan kematian seseorang. Terdapat hadits sahih dari Hudzaifah bin al Yaman bahwa Nabi melarang anna’yu. HR Ahmad dan Tirmidzi, dinilai hasan oleh Tirmidzi dan al Albani.

وما يفعله أهل بلدك هو موجود في كثير من البلاد، وهُو النّعي الذي يكون على رؤوس المنابر وفي الأسواق والتجمّعات، كما كان يفعل أهل الجاهلية،

Perbuatan penduduk negerimu itu ada di banyak daerah. Itulah mengumumkan kematian di menara masjid, di tengah-tengah pasar dan perkumpulan banyak orang. Ini sama persis dengan kelakuan orang-orang jahiliah.

أما النعيُ من أجل مقصد شرعي ليسمع أصحابه وأقرباؤه وكل من سيأتي للصلاة وحضور جنازته فهو أمر جائز، وهذا لا يُتوسّع فيه.

Sedangkan mengumumkan kematian dengan tujuan yang dilegalkan oleh syariat semisal memberitahukan berita kematian kepada kawan dan kerabat mayit serta semua orang yang akan mendatangi rumah duka untuk melakukan shalat jenazah dan menghadiri jenazahnya itu dibolehkan. Pengumuman kematian semacam ini seharusnya bersifat terbatas.

وثبت في صحيح البخاري (1328) وصحيح مسلم (951) أن النبي صلى الله عليه وسلم نعي للناس النجاشي في اليوم الذي مات فيه فخرج بهم إلى المصلى، وكبّر أربع تكبيرات»

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan kepada para sahabat kematian Najasyi pada hari kematian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabat melakukan shalat jenazah di tanah lapang. Ketika itu beliau bertakbir sebanyak empat kali.

قال النووي رحمه الله تعالى: فيه استحباب الإعلام بالميت لا على صورة نعي الجاهلية، بل مجرّد إعلام للصلاة عليه وتشييعه وقضاء حقّه في ذلك، والذي جاء من النهي عن النعي ليس المراد به هذا، وإنما المراد نعي الجاهلية المشتمل على ذِكر لمفاخر وغيرها» اهـ.
An Nawawi mengomentari hadits di atas dengan mengatakan, “Hadits di atas adalah dalil dibolehkannya mengumumkan kematian asalkan tidak menyerupai orang-orang jahiliah dalam mengumumkan kematian. Itulah mengumumkan kematian semata-mata ajakan untuk mensholati jenazahnya, mengantarkannya ke pemakaman dan menunaikan hak mayit dengan melakukan hal-hal di atas. Sedangkan pengumuman kematian yang terlarang tidaklah pengumuman kematian sebagaimana di atas. Yang terlarang adalah mengumumkan kematian ala jahiliah. Itulah pengumuman kematian diiringi dengan memuji-muji mayit”.

وقال ابن العربي المالكي رحمه الله: يؤخذ من مجموع الأحاديث ثلاث حالات: الأولى: إعلام الأهل والأصحاب وأهل الصلاح، فهذا سنّة. الثانية: دعوة الحفل للمفاخرة، فهذه تكره. والثالثة: الإعلام بنوع آخر كالنياحة ونحو ذلك، فهذا يحرم» اهـ.

Ibnul ‘Arabi al Maliki mengatakan, “Kesimpulan dari berbagai hadits mengenai hal ini adalah perlu ada tiga rincian.

Pertama, menyampaikan berita kematian seseorang kepada keluarga, kawan dan orang-orang shalih. Hal ini hukumnya dianjurkan.

Kedua, mengumumkan kematian kepada kumpulan orang dengan tujuan menyebut-nyebut kelebihan mayit. Hukum hal ini adalah makruh.

Ketiga, pengumuman kematian jenis lain semisal dalam bentuk meratapi kematian dan semisalnya. Hukum poin ketiga ini adalah haram”.

Sumber:

http://www.abusaid.net/index.php/fatawi-sites/258-2009-05-03-21-41-36.html

http://ustadzaris.com/mengumumkan-kematian-melalui-mic
Read more

Internet Kantor Untuk Pribadi


السؤال : أعمل في شركة عمومية ولدي في مكتبي إنترنت مجانا ولي كذلك في البيت إنترنت ولكن بالاشتراك الشهري ولما تخلص المدة الاشتراكية في البيت وما عندي دراهم لكي أجدد المدة آخذ ال user name أو password الخالص بالعمل وأشتغل به في بيتي لمسائلي الشخصية. هل أنا آثم؟

Pertanyaan, “Saya bekerja di sebuah perusahaan. Di kantor tersedia fasilitas internet. Di rumah juga ada internet bulanan.Tatkala jatah internet bulanan di rumah habis dan saya tidak memiliki uang untuk memperpanjang langganan, saya memakai user name dan password yang seharusnya hanya khusus untuk keperluan kantor untuk saya pakai di rumah untuk kepentingan pribadiku. Apakah saya berdosa?”

الجواب :
الحمد لله
إذا كان استخدامك لكلمة المرور الخاصة بجهازك في العمل للعمل على جهازك الخاص بك لا يؤثر على العمل بزيادة تكلفة ، أو تعطيل الخط ، أو تقليل سرعته فلا حرج من ذلك .

Jawaban, “Jika password yang sebenarnya disediakan khusus untuk komputer yang Anda pegang di kantor itu, Anda pergunakan untuk komputer pribadi Anda tanpa menyebabkan bertambahnya biaya pemakaian akses internet yang ditanggung kantor atau rusaknya jaringan internet kantor atau berkurangnya kecepatan akses internet di kantor maka apa yang Anda lakukan itu tidaklah masalah.

ولكن … ينبغي أن يكون ذلك بإذن المسؤول في الشركة ، لأنه يعد انتفاعاً بأموال الشركة ، ولأن الموظفين قد يعملون جميعاً نفس العمل مما قد يؤثر على سرعة الخط في الشركة .

Akan tetapi sepatutnya hal tersebut dengan seizin pimpinan perusahaan karena apa yang anda lakukan itu tergolong menggunakan harta milik kantor untuk kepentingan pribadi dan boleh jadi semua karyawan melakukan hal yang sama sebagaimana yang anda lakukan sehingga hal ini tentu saja menyebabkan berkurangnya kecepatan akses internet di kantor.

والأحوط لك : أن تمتنع من هذا ، لكن إن فعلته أحيانا لحاجتك إليه ، فلا يظهر لنا ما يحرمه.

Sehingga sikap yang lebih hati-hati adalah meninggalkan hal tersebut namun jika Anda terkadang melakukannya ketika memang ada keperluan maka kami belum mengetahui alasan untuk mengharamkannya”

Sumber:

http://islamqa.com/ar/ref/130228

http://ustadzaris.com/bolehkah-memakai-internet-kantor-untuk-keperluan-pribadi
Read more